il@l@ng

May 26th, 2006

MOUNTAIN PATROL (XEXEKILI)

Posted by keep-swimming in STORY YOU COULD TELL

Kekexili, the largest animal reserve in China, is home to many rare species, including the Tibetan antelope. Prized for its skin that is used in making luxurious, albeit illegal, shahtoosh scarves, the antelope’s numbers have been dwindling drastically in the past 20 years as poachers slaughter the animals, often hundreds at a time. In the 1990s local Tibetans formed a volunteer patrol to try to stop the illegal poaching—sometimes at the cost of their own lives. MOUNTAIN PATROL: KEKEXILI chronicles the life-and-death struggle between these volunteers and the poachers, and takes place in the 5,000-meter (3.1-mile) high Kekexili on the Qinghai-Tibetan Plateau.

Photographer Ga Yu arrives at the camp of the Kekexili patrolmen just as they are mourning the death of one of their members. Their leader, Ri Tai, is at first suspicious about Ga Yu’s presence, but when the photographer suggests that his work can help bring about their goal of creating a natural reserve for the Tibetan antelope, Ri Tai allows him to join the patrol.

After an evening of song and feasting where Ga Yu witnesses the strong brotherly bond between the patrolmen, he is awakened very early the next day. As the men pack their guns and supplies, Ri Tai tells him they are heading for the mountains. Ga Yu witnesses the heartfelt and tearful good-byes of the family members and begins to wonder what is in store for them, seeing a mixture of fear and sorrow in their relatives’ eyes as they depart.

The patrol enters the bleakly beautiful landscape that seems to stretch for miles without end—barren tundra like the surface of the moon. They stop a truck to check its cargo, and Ri Tai tells Ga Yu that the Mountain Patrolmen only have the authority to stop, confiscate and fine but not to arrest anyone. They drive on to meet up with another border patrol team at the base camp and although there is sadness about the recent death of a member, Ga Yu is struck by the natural joy for life that the patrolmen have.

In stark contrast, the following day, Ga Yu witnesses a scene of death as the patrolmen find a field of hundreds of antelope carcasses near a lake, some still being picked apart by vultures. They find two men still at the lake and force them to help bury the remains. Ri Tai informs Ga Yu that the patrolmen bury 10,000 antelope a year. A prayer is said as they burn the remains with the same respect shown to one of their own.

As the patrol proceeds, driving swiftly across the rough terrain, a gunshot is fired and one of the patrol trucks swerves off the road. The driver is dead and Ga Yu is suddenly face-to-face with the dangerous reality of their situation. Ri Tai vows to track down the killers.

May 26th, 2006

sepang,06oct2005

Posted by keep-swimming in piece of soul

LETIH…

SELALU BERHARAP

RESAH…

SELALU BERTANYA-TANYA

LELAH…

SELALU MENCARI-CARI

INGIN BERLARI TAPI TAK KUAT KAKI

INGIN MEMAKI TAPI TAK SAMPAI HATI

AKU TERJATUH

TAK KUAT LAGI UNTUK MENDAKI

May 26th, 2006

sepang, 21oct2005

Posted by keep-swimming in piece of soul

hujan turun subuh ini…

dari balik jendela kupandangi rintiknya

jalan bersinar keperakan ditimpa sinar lampu jalan

aku sepi…

dingin merambati kulitku

yg berselimutkan kain sarung selepas shalat

mencari sosokmu dalam rinai hujan

aku benci…

dingin dan sepi menelusup ke dada

saat kubuka jendela

tetes hujan menyentuh kulitku

aku beku…

May 19th, 2006

merekapun datang…

Posted by keep-swimming in it's just a thought...

Baru aja selesai parkirin pesawat merpati..

banyak yang kulihat malam ini..

wajah-wajah penuh harap

wajah-wajah terlihat lelah

satu dua kulihat berkalungkan sarung

satu keluarga dengan dua anak menggendong boneka

seorang pemuda sekitar 17 tahunan menghampiriku,

"maaf mbak, kalo mau ambil tas dimana yah?"

wajahnya yang lugu dengan mata polos menatapku

ratusan orang setiap harinya datang dari negara kita untuk mengadu nasib di negeri jiran ini

tanpa dia tahu apa yang akan dihapdapinya nanti..

akankah bahagia ataukah hanya akan menambah tumpukan penderitaan untuknya..

kita tak pernah tahu… kita memang tak pernah tahu…

akupun pulang… sambil masih membawa tanya dalam hatiku..

apa yang mereka tuju??

~~KLIA, 20may2006, past midnight~~

May 9th, 2006

Kemanakah

Posted by keep-swimming in sounds of my soul

Ada Band

Dirimu selalu
Taburkan cahaya di benakku dan kalbuku
Meskipun takdir menghindari kita ‘tuk bersama
Namun ku masih menyayangmu, menantiku

Kemanakah cinta ini
Kupersembahkan tanpamu yang jujur
Mendampingiku
Ceriakanku di sebelah nafasku

Tiada jalan
Mampu satukan kasih kita seutuhnya
Atau manusia mungkin tiada pernah ‘tuk
Mengerti

Akankah cinta selalu ada
Tanpa pelukmu yang amat mesra
Temani tidurku
Bahagiakanku hingga akhir hayatku

Akankah cinta selalu ada
Tanpa cumbu yang halus lembut
Temani sadarkanku
Gairahkanku hingga ajal memanggilku

May 9th, 2006

*waktu ngimpi di transfer desk* 11nov2005

Posted by keep-swimming in it's just a thought...

Akhirnya kuhirup lagi udara Jakarta setelah dua tahun mencari sesuap nasi dan segenggam berlian (make istilah dway) di negeri orang. memang gak seberapa jauh seh, cuman di kualalumpur, malaysia doank!! tapi dengan kontrak kerja dua tahun dan gak boleh pulang sebelum satu tahun kebayang donk terasa banget jauhnya…

Langsung kuaktifkan hpku, No network Connection… Ups! baru sadar kalau aku masih pake nomer Malay, waduh berabe juga neh! Aku terus menuju counter imigrasi, tak sabar untuk keluar dari ruangan airport yang super dingin. Selesai Imigrasi aku menuju baggage reclaim ambil tasku terus cari troley dan dengan segala antusiasme serta segunung kerinduan aku keluar dari airport.

Panas…itulah yang pertama kurasakan, hangat menyentuh kulitku. Tiba-tiba ada rasa hangat didadaku yang terus menjalar ke kedua mataku, akh! masa sih jadi mellow begini?? Pengen nangis aja rasanya. Rasa bahagia yang menyesakkan.

Di arrival hall kucari sosokmu. Itu juga kalau aku masih ingat. Si hitam yang selalu kurindukan. Sesosok bayang yang menjadi sumber kekuatanku menjalani hari-hariku di perantauan. Bukannya aku mengesampingkan keluargaku, tapi pasti bagi mereka yang pernah ditampar makhluk yang bernama cinta tahu bagaimana rasanya.

Akhirnya kilihat sosokmu, berdiri dihadapanku sekitar lima meter dari tempatku berdiri. Kamu celingukan kekanan, kekiri, kedepan dan kebelakang. Sejebak kunikmati kamu. Kamu masih seperti dua tahun yang lalu. Sosok tegap, kulit hitam, rambut kriwil dibalut dengan jeans hitam kaos biru tua bergambar landy lengkap dengan sepatu gunung coklat. Langsung aja rasa panas dimataku berubah menjadi tetesan-tetesan kecil air mengalir di kedua pipiku saat kau tersenyum kearahku. Kuseret kakiku yang tiba2 terasa lemas dan tak bertenaga. Dadaku terasa sesak seperti mau meledak. Dua tahun kusimpan selangit kerinduan untukmu. Dua tahun kurajut benang-benang doa dengan cintaku untukmu. Dua tahun aku urai kalimat permohonan kepada Tuhan untuk hari ini.

Kau tersenyum, meraih tanganku,mengusap rambutku lalu kau peluk aku. Tangis yang tersendat kini jadi hujan badai. akhirnya aku pulang, akhirnya aku berada di tempat yang selama ini cuma bisa kuimpikan, dipelukanmu. Kita berpelukan lamaaa… kau kecup keningku dan terus memelukku seperti mencoba untuk memindahkan sesak didadaku ini kepadamu. akhirnya tangisku mereda. Dengan enggan dan agak malu kulepaskan pelukanku. Disamping kulihat ada sepasang kakek nenek menatap kami sambil tersenyum. Mungkin mengingat waktu mereka pernah melakukan kebodohan yang sama.

"Udah nangisnya?" tanyamu sambil menatapku dengan sepasang mata yang sama yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya empat tahun yang lalu. Aku tak menjawab. Aku tak mampu bicara. Aku hanya memukul pelan lenganmu sambil masih menahan tangis.

"lapar? Makan dulu yuk!" Kau meraih troley yang kutinggalkan dibelakangku sambil mengandeng tanganku menuju restoran terdekat.

"Kok diem aja? Gak seneng yah pulang?" tanyanya menggodaku

Aku cuma mengerang sambil meremas-remas tangannya. aku betul-betul gak tahu mesti ngomong apa??

"Jangan dipencet-pencet terus tangannya, sakit tahu,"kamu lepaskan genggaman tanganku lalu meraih pundakku. Sedikit kusandarkan kepalaku dilenganmu.

***to be continue***

~KLIA, 11nov 2005~

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: